Hasil Positif Test Napza/Narkoba Belum Tentu Anda Pecandu Narkoba

Penulis : Admin | Tanggal : 25 May 2019 | Pukul : 20:05:12

Udara dingin menyerebak disebuah ruangan yang berukuran 3 x 4 meter persegi. Seorang pria terlihat menggunakan jas dokter duduk didepan laptop. Pria ini bernama dr.Hermawanto HH. SpPK.,MARS yang merupakan Kepala Instalasi Laboratorium RSKO Jakarta. Ia membuka tabir sebuah informasi yang tidak banyak orang tau, untuk itu blogpost ini dibuat.

Dokter Hermawanto sambil duduk menerangkan kepada penulis bahwa hasil positif test Narkoba/NAPZA belum tentu positif sebagai pecandu narkoba. Hasil laboratorium untuk Narkoba/NAPZA (Narkotika Alkohol Psikotripika Zat Adiktif Lainnya) dalam proses pemeriksaannya menggunakan metode skrining sebelum diperiksa lebih spesifik.

RSKO Jakarta sebagai one stop service pelayanan dibidang NAPZA memiliki laboratorium yang handal dan bermutu. Untuk menjaga kualitas pemeriksaan NAPZA di Laboratorium RSKO Jakarta menggunakan 3 (tiga) tahapan penting yang disebut pre-analitik, analitik dan post analitik.

Tahap pertama adalah pre-analitik termasuk pembekalan informasi bagaimana seseorang mempersiapkan diri sebelum diambil sampel urinnya. Seseorang yang di test NAPZA harus menyampaikan secara jujur obat-obat apa saja yang dikomsumsi, termasuk multivitamin, obat herbal/ jamu dan lainnya. Pada tahap ini petugas akan sangat hati-hati dalam mengindentifikasi sampel urin agar tidak tertukar dengan sampel urin orang lain. 

Tahap kedua adalah analitik, disini pihak laboratorium RSKO Jakarta juga akan akan sangat berhati-hati dalam menentukan memakai metode pemeriksaan apa, menggunakan alat apa, menggunkan reagen apa dan bagaimana menjaga kualitas pemeriksaannya.

Dalam urusan analitik ini Laboratorium RSKO Jakarta tidak akan kompromi dengan berbagai motode dan alat pemeriksaan maupun reagen yang tidak mendapat rekomendasi dari profesi, keilmuan, sertifikasi FDA, Balai POM, dll. 

Deskripsi : Kepala Instalasi Laboratorium RSKO Jakarta I Sumber Foto : Hermawanto

Selain itu pihak Laboratorium RSKO juga masih harus melakukan ujicoba dulu terhadap sensitifitas dan sesifisitas reagen sebelum dipakai operasional pelayanan. Menurut dokter Hermawanto semua itu dilakukan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah dan komitmen tinggi menjaga mutu dan profesionalisme. 

Tahap ketiga adalah post analitik. Pada tahap ini proses administrasi yang dilakukan oleh tim Laboratorium RSKO Jakarta. Dari menuliskan hasil laboratorium dalam komputer, mencetak, memasukkan dalam amplop, dan memberikan kepada petugas pengirim. Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kesalahan administrasi, maka dibutuhkan pengawasan berjenjang untuk meminimalisir kesalahan.

Ketiga tahapan tersebut (pre-analitik, analitik dan post analitik) menjadi bagian utama dalam kendali mutu laboratorium.

-----------------------------------------------------------

Banyak masyarakat berfikir bahwa pemeriksaan NAPZA dapat dilaksanakan untuk Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN) saja. Sampel urine Pemeriksaan Napza melalui pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan bila ada permintaan tertulis/rujukan dengan melalui pengisian formulir atau surat legal lainnya. 

Pada surat permintaan pemeriksaan zat NAPZA dikenal dengan permintaan pemeriksaan skrining dan konfirmasi. Pemeriksaan skrining merupakan pemeriksaan zat NAPZA yang bertujuan memilah mana individu yang didalam tubuhnya benar-benar tidak terdeteksi NAPZA (negatif) dan mana individu didalam tubuhnya terdeteksi NAPZA (positif) atau derivate NAPZA (obat yang memberikan reaksi silang "positif")

Deskripsi : Pemeriksaan NAPZA / Narkoba menggunakan SOP pelayanan sehingga hasil dapat terjamin I Sumber Foto : dokpri

Metode ini memberikan keluaran / hasil berupa positif dan negatif. Hasil positif yang dimaksud sampel terdeteksi NAPZA sedangkan hasil negatif sampel tidak terdeteksi NAPZA. Hasil positif/negatif tersebut merupakan arti sesungguhnya dari pemeriksaan laboratorium. Namun hasil tersebut bukan berarti bila hasil positif maka sampel ada NAPZA sedangkan hasil negatif menyatakan sampel tidak ada NAPZA.

Hasil posiif dari sampel urine bisa terdeteksi NAPZA dan bisa terdeteksi bukan NAPZA namun menyerupai NAPZA (false positif) untuk itu perlu konfirmasi dengan metode lain. Semua skrining pasti ada false positif, untuk itu tidak bisa dibilang karena alat laboratorium nya yang salah. 

Jikalau hasil negatif, sampel urine tidak terdeteksi bukan berarti sampel urine tidak ada NAPZA. Bisa jadi ada NAPZA tapi tidak terdeteksi. Bisa jadi juga ada NAPZA tapi kadarnya rendah atau memang tidak ada NAPZA. 

Untuk itu perlunya skrining test dengan cut off yang lebih rendah untuk kasus ada NAPZA namun tidak terdeteksi. Definisi cut off dapat kita misalkan dengan botol air minum di isi 500 ml terisi penuh sedangkan menggunakan botol air minum lain cukup di isi 400 ml sudah penuh. Kapasitas botol satu dengan yang lain berbeda sehingga beda dalam menentukan hasil penuh.

Nah apabila ada hasil positif, bagi orang yang diperiksa sampel urine nya tidak perlu cemas. Metode konfirmasi akan menjadi wasit dalam pemeriksaan NAPZA dengan metode GCMS.

Dengan metode GCMS ini akan bisa melihat lebih spesifik jenis NAPZA nya atau derivate NAPZA (obat yang memberikan reaksi 'silang positif'). Metode ini untuk penegasan kepada orang yang melakukan pemeriksaan NAPZA apakah dirinya memang pengguna NAPZA  atau ada faktor lain seperti mengkomsumsi obat resep dokter, dll.

Jadi proses pemeriksaan NAPZA/Narkoba di Laboratorium RSKO Jakarta sangat berhati-hati dalam memutuskan apakah seseorang tersebut terdeteksi menggunakan NAPZA, dereviate NAPZA, atau tidak ada NAPZA didalam tubuhnya. Kesalahan dalam membuat keputusan bisa berakibat fatal. Dengan manajemen resiko yang baik, hal demikian akan terhindari.

Dokter Hermawanto menyampaikan untuk masyarakat/lembaga/perusahaan jangan takut untuk pemeriksaan deteksi NAPZA. Pihak RSKO Jakarta akan menjaga kerahasian hasil pemeriksaan. Terkait wewenang RSKO Jakarta dalam kapasitasnya mengeluarkan Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN) sebaiknya bersikap jujur terbuka pada saat assesment NAPZA.

Jangan melakukan mencampur urin dengan zat-zat lainnya atau mengganti urin dirinya dengan milik orang lain yang bertujuan mengacaukan hasil pemeriksaan. Pihak RSKO Jakarta sangat berpengalaman mengetahui apabila orang yang diperiksa mencampur dengan zat lain atau menukar urin.

------------------------------------------------

Penulis : Andri M

Sumber : dr.Hermawanto HH. SpPK.,MARS-Kepala Instalasi Laboratorium RSKO Jakarta & drs.Hardison, MSi

Terima kasih, Salam Hangat RSKO Jakarta
Facebook (DISINI) - Twitter ( DISINI) - Instagram (DISINI) - Web (DISINI)